Majlis Masjid Nurul Iman Pahang Pelajari Syariat Islam Aceh

Kepala DSI Aceh Dr Munawar A Djalil MA Menyerahkan Cindera Mata Berupa Buku Tentang Syariat Islam Aceh Kepada Ustadz Jauhari Selaku Ketua Rombongan Masjid Nurul Iman Temerloh, Pahang, Malaysia, Selasa Siang, 28/11/17.

Kepala DSI Aceh Dr Munawar A Djalil MA Menyerahkan Cindera Mata Berupa Buku Tentang Syariat Islam Aceh Kepada Ustadz Jauhari Selaku Ketua Rombongan Masjid Nurul Iman Temerloh, Pahang, Malaysia, Selasa Siang, 28/11/17.

Dinas Syariat Islam Aceh – Sebanyak 26 anggota Majlis Masjid Nurul Iman Temerloh, Pahang, Malaysia yang terdiri dari Imam, Bilal dan para jamaah datang ke Banda Aceh, Selasa (28/11/17). Selain mengunjungi Masjid Raya Baiturrahman yang merupakan landmark-nya Banda Aceh, para anggota Majlis Nurul Iman juga mengunjungi Dinas Syariat Islam (DSI) Aceh yang juga termasuk salah satu dalam agenda rangkaian lawatan mereka.

“Tujuan dari kunjungan ini bukanlah sekedar lawatan tapi juga nak berkongsi ilmu khususnya berkenaan dengan pelaksanaan hukum Islam di Aceh,” ujar Ustadz Jauhari, yang kental dengan logat melayunya, kepada Kepala DSI Aceh Dr Munawar A Djalil MA yang didampingi Kepala UPTD Penyuluhan Agama Islam dan Tenaga Dai Drs Nasruddin M Ag serta sejumlah pegawai lainnya di aula LPTQ Aceh.

Semangat untuk menerapkan syariat Islam di Malaysia cukup tinggi namun mendapat halangan dalam pelaksanaannya sehingga kami perlu belajar dari Aceh dalam upaya melaksanakan syariat Islam di Malaysia, tambah Ustadz Jauhari.

Sementara itu, dalam penjelasannya Munawar menyampaikan, secara sejarah Aceh dengan Pahang mempunyai hubungan yang sangat erat, dimana Sultan Iskandar Muda menikah dengan Putri Pahang (di Aceh biasa disebut Putroe Phang).

Aceh merupakan tempat pertama bertapaknya Islam di nusantara, yaitu di Samudra Pasai (Aceh Timur). Aceh pernah mengalami masa kegemilangan yaitu pada masa Kesultanan Aceh Darussalam di bawah pemerintahan Sultan Iskandar Muda. Pada masa itu, Aceh mencapai puncak kejayaan, sehingga menjadikan Aceh sebagai pusat perdagangan Islam dan Kesultanan Aceh merupakan salah satu kesultanan Islam terbesar di dunia.

Setelah mengalami konflik yang panjang dari masa sebelum kemerdekaan hingga setelah kemerdekaan Indonesia, akhirnya masyarakat Aceh yang terkenal sangat religius meminta kepada pemerintah pusat syariat Islam yang secara kultur telah dilaksanakan oleh masyarakatnya supaya diformalisasikan melalui regulasi Negara. Lahirnya Undang-Undang No. 44 Tahun 2009 dan Undang-Undang No. 11 Tahun 2006 merupakan bentuk formalisasi syariat Islam di Aceh yang mengamanahkan pelaksanaan syariat Islam secara kaffah di Aceh.

Dengan demikian, syariat Islam yang diberikan untuk Aceh bukanlah hadiah dari pemerintah pusat melainkan hasil dari perjuangan masyarakat Aceh yang menjadi keinginan masyarakat Aceh untuk menjalankan agama Islam, sedangkan penerapan syariat Islam menuju kaffah masih berada dalam proses hingga akhirnya menuju sempurna seperti yang diperintahkan oleh Allah Swt, lanjut Munawar.

“Namun demikian, dalam 4 tahun belakangan dengan sosialisasi pemahaman tentang syariat Islam yang dilakukan oleh Pemerintah Aceh melalui DSI Aceh, stakeholder lain yang terkait, ulama, serta segenap unsur dari berbagai lapisan masyarakat jumlah pelanggaran syariat Islam sudah berkurang, sehingga diharapkan Aceh dalam pelaksanaan syariat Islam menjadi model bagi provinsi-provinsi lain di Indonesia,” tutur Munawar mengakhiri penjelasannya.

Posted in Berita and tagged , .

Lilis Suriani

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *