Pelatihan Pranikah Guna Mewujudkan Keluarga Sakinah

Dr Munawar A Djalil MA, saat Membuka Acara Pelatihan Pranikah di Hotel Tiara Meulaboh, Selasa (22/8).

Kepala Dinas Syariat Islam Aceh Dr Munawar A Djalil MA, saat Membuka Acara Pelatihan Pranikah di Hotel Tiara Meulaboh, Selasa (22/8).

Dinas Syariat Islam Aceh – Pelatihan pranikah guna mewujudkan keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah, sehingga melahirkan keluarga yang baik dan akhirnya membentuk komunitas yang baik bagi bangsa dan Negara khususnya di Aceh.

Hal itu disampaikan oleh Kepala Dinas Syariat Islam Aceh Dr Munawar A Djalil MA saat membuka Kegiatan Workshop Penyusunan Pergub Pranikah di di Hotel Tiara, Meulaboh, Aceh Barat, Selasa (22/8).

Kegiatan yang berlangsung selma 3 hari tersebut diikuti oleh 35 peserta masing-masing dari kabupaten Aceh Jaya, Aceh Barat, Nagan Raya, Aceh Barat Daya, Aceh Selatan, Subulussalam, dan Aceh Singkil. Kegiatan ini juga dilaksanakan di tiga zona yaitu untuk wilayah timur Kota Lhoksemawe tanggal 8-10 Agustus, wilayah tengah Kota Takengon 14-16 Agustus, dan wilayah barat Kota Meulaboh 22-24 Agustus 2017.

Dalam kesempatan itu Munawar mengatakan, demi memastikan generasi kedepan menjadi generasi yang kuat baik dari segi iman, aqidah, dan juga dapat berkompetisi dalam era global yang penuh tantangan diperlukan pelatihan pengetahuan kepada masyarakat tentang pranikah dan beratnya tanggung jawab tersebut, salah satunya dengan pelatihan ini.

“Islam adalah ajaran agama yang menuntun umatnya hidup dalam keluarga  damai, adil, sejahtera, dan bermartabat sehingga Perintah Allah yang terkandung dalam Alquran dan Sunnah Rasul dapat terlaksana dalam semua aspek kehidupan,” jelasnya.

Munawar melanjutkan, Aceh diberikan kewenangan untuk menegakkan hukum syariah, terutama dalam konteks bagaimana negara mendesain kegiatan-kegiatan syariah termasuk dalam hukum keluarga yang merupakan suatu kewajiban bagi masyarakat, pemerintah, dan tentu juga kewajiban bagi negara.

Ia menambahkan, realita yang terjadi saat ini adalah tingginya angka perceraian dari tahun ke tahun sudah sangat mengkhawatirkan. Buktinya dapat dilihat dari perilaku-perilaku  yang menyimpang baik generasi muda maupun pelajar, perilaku tersebut salah satunya berasal dari rusaknya kehidupan keluarga (Broken Home).

“Ini realitas yang sebetulnya harus kita antisipasi. Peran pemerintah dalam konteks seperti ini di satu sisi diberi kewenangan melaksanakan syariah lewat lembaga formal tapi disisi lain kita diberi otoritas untuk menjalankan tugas-tugas umum pemerintahan salah satunya memastikan kehidupan rakyatnya menjadi aman, damai, sejahtera, dan ini harus dimulai dengan keluarga,” tegasnya.

Dr Munawar berharap tumpuan realitas sosiologis inilah yang menggerakkan pemerintah untuk berfikir bersama-sama agar pelatihan pranikah ini dan penguatan keluarga pasca nikah itu bisa terwujud.

Posted in Berita and tagged , .

Abdusy Syakur

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *